Minggu, 05 Desember 2010

Istana Amantubillah Mempawah


amantubillah

A. Selayang Pandang
Istana Amantubillah adalah nama istana dari Kesultanan Mempawah di Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Kata amantubillah berasal dari bahasa Arab yang berarti “aku beriman kepada Allah”. Nama istana tersebut mencerminkan bahwa sultan dan masyarakat Kesultanan Mempawah sangat percaya kepada Allah dan sekaligus melambangkan betapa kuatnya ajaran agama Islam terpatri pada setiap diri orang Melayu.
Kesultanan Mempawah mulai dikenal pascakedatangan rombongan Opu Daeng Menambun dari Kerajaan Matan, Tanjungpura, ke Sebukit Rama, Mempawah—lokasi Istana Amantubillah yang sekarang, sekitar tahun 1737 M. Eksistensinya kian diperhitungkan di kancah internasional setelah Opu Daeng Menambun dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara naik tahta menggantikan Sultan Senggauk pada tahun 1740 M. Apalagi pada masa pemerintahannya, Habib Husein Alkadri, mantan hakim agama di Kerajaan Matan, pindah ke Kesultanan Mempawah. Maka, orang pun kemudian berbondong-bondong datang ke Mempawah tidak hanya untuk melakukan kontak dagang atau kontrak politik, tapi juga untuk mempelajari dan mendalami agama Islam.
Istana Amantubillah sesungguhnya baru didirikan sekitar tahun 1761 M oleh Panembahan Adi Wijaya Kesuma, sultan ke-3 Kesultanan Mempawah. Namun apa hendak dikata, pada tahun 1880 M istana tersebut terbakar. Peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin, sultan ke-9. Istana yang terlihat sekarang ini baru dibangun pada tahun 1922, ketika Gusti Taufik yang bergelar Panembahan Muhammad Taufik Akkamuddin, sultan ke-11, naik tahta.
Terhitung sejak tanggal 12 Agustus 2002, tampuk kepemimpinan Kesultanan Mempawah dipercayakan kepada Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, sebagai sultan ke-13.

B. Keistimewaan

Sejuk dan artistik. Begitulah kira-kira kesan yang muncul ketika mengunjungi Istana Amantubillah. Rumputnya yang hijau, pepohonan palem yang berjajar rapi, serta berbagai jenis bunga yang tertata dengan baik kian menguatkan kesan tersebut. Apalagi kondisi fisik bangunan istana yang didominasi warna hijau muda tersebut masih terlihat bagus dengan dukungan ornamen-ornamen khas Melayu.
Di halaman istana, pengunjung dapat melihat alun-alun yang berumput hijau dan Masjid Jami`atul Khair, masjid Kesultanan Mempawah, yang berdiri anggun.
Bangunan Istana Amantubillah terdiri dari tiga bagian. Bangunan utamanya terletak di tengah-tengah, sedangkan bangunan pendukungnya berada di sayap kanan dan kiri. Bangunan utama ini dahulunya merupakan tempat singgasana sultan dan permaisuri, serta tempat tinggal sultan beserta keluarganya. Di ruangan ini pengunjung dapat melihat foto-foto sultan beserta keluarganya, keris, busana kebesaran, dan payung kerajaan. Bangunan sayap kanan istana dahulunya digunakan sebagai tempat mempersiapkan keperluan dan tempat jamuan makan keluarga istana. Sekarang, bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat tinggal kerabat istana. Sedangkan bangunan sayap kiri istana difungsikan sebagai pendopo istana. Bangunan tersebut dahulunya digunakan sebagai aula dan tempat mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan administrasi pemerintahan.
Di kompleks istana, pengunjung dapat melihat kolam bekas pemandian sultan beserta keluarganya. Sayang, kolam pemandian tersebut tidak berfungsi lagi, karena pendangkalan dan tertutupnya saluran air yang menghubungkan kolam tersebut dengan anak Sungai Mempawah.
Selain itu, pengunjung juga masih dapat melihat bekas tempat peristirahatan dan tempat bersantai (gazebo) sultan beserta keluarganya.

C. Lokasi
Istana Amantubillah terletak di Kelurahan Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

D. Akses

Kota Mempawah berjarak sekitar 67 kilometer di sebelah utara Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Bandara Supadio atau Terminal Bus Pontianak, pengunjung dapat naik taksi, travel, dan bus sampai Kota Mempawah, ibu kota Kabupaten Pontianak. Dari Kota Mempawah, Istana Amantubillah berjarak sekitar 10 kilometer dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Pengunjung dapat mengakses istana yang berada di sekitar kawasan Sebukit Rama tersebut dengan menggunakan bus atau minibus.

E. Harga Tiket
Pengunjung tidak dipungut biaya.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di sekitar Istana Amantubillah terdapat fasilitas, seperti masjid, tempat penginapan, warung makan, dan kios wartel. Di samping itu, jalan menuju istana ini sudah beraspal mulus, sehingga memudahkan pengunjung yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk mengaksesnya.

Suku Dayak Mentuka Kalimantan Barat

Suku Dayak Mentuka Kalbar merupakan nama Suku Dayak yang hidup di sekitar kawasan Sungai Mentuka Kalimantan Barat yang berjarak sekitar 450 kilometer dari Ibukota Kalimantan Barat (Kalbar) yakni Kota Pontianak. Selain dari Pontianak, sebenarnya Sungai Mentuka sendiri dapat dijangkau dengan mudah melalui jalur transportasi darat jika kita berada di Matan Nanga Taman yakni sebuah Kecamatan di Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat, konon karena suku Dayak ini merupakan Suku Dayak di Sungai Mentuka maka nama Sungai Mentuka menjadi dasar penamaan Suku Dayak sama seperti Suku Dayak di Kalimantan Tengah, seperti Dayak Kahayan yang mendiami sepanjang Sungai Kahayan, Dayak Barito, Dayak Kapuas, dan sebagainya.
Sebagai satu dari sekian banyak Suku Dayak di Kalimantan Barat, Suku Mentuka sebenarnya memiliki kesamaan dengan suku-suku Dayak lainnya yakni memiliki kekayaan khasanah budaya, bahasa sejarah, serta tradisi dan ritual tersendiri seperti layaknya Suku Dayak lainnya yang mendiami Pulau Kalimantan.

Dari aspek Bahasa yang digunakan maka Bahasa Suku Dayak Mentuka disebut "Bahasa Mentuka" atau "Bahasa Ntuka", kata Ntuka diambil lebih kepada pengucapan dari Mentuka itu sendiri. Bahasa Mentuka atau Bahasa Ntuka yang digunakan oleh Suku Dayak Mentuka ini jika diperhatikan memiliki kemiripan dengan beberapa jenis kosakata Bahasa Dayak yang ada di sekitar kawasan Kabupaten Sanggau, Kalbar khususnya pada bagian utara Kabupaten Sanggau.

Ada hal unik lain dari Suku ini yakni mereka menyakini adanya hubungan suku Dayak Mentuka dengan Kerajaan Majapahit, semua ini didasari sejumlah peninggalan sejarah berupa benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Majapahit, benda-benda pusaka seperti keris, tanah sekapal, piring dan sebagainya inilah yang dijadikan dasar Suku Dayak Mentuka untuk meyakini bahwa mereka memiliki hubungan erat dengan silsilah Majapahit sebagai sebuah kerajaan yang pernah mengalami masa keemasan di Nusantara. Benda-benda pusaka Suku Dayak Mentuka sebagai warisan Kerajaan Majapahit tersebut masih dapat ditemui di beberapa kampung seperti "Kampung Patok".

Interaksi budaya yang berlangsung diwariskan secara turun temurun untuk menjadi tradisi yang kuat dalam kehidupan sehari-hari Suku Dayak Mentuka seperti tradisi lisan dan tradisi berladang yang ada pada Suku  Dayak Kalbar lain seperti Dayak Kayan maupun Dayak Kanaytn yang mengingatkan bahwa semua manusia  di bumi harus senantiasa selalu berusaha bermurah hati baik kepada suku lain ataupun sesamanya.

Upacara Naik Dango Suku Dayak Kalbar


Upacara Naik Dango Suku Dayak Kalbar merupakan kegiatan ritual Suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat, upacara ritual Naik Danggo ini merupakan kegiatan panen padi atau pesta padi sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Dayak Kanayatn kepada Nek Jubata (Sang Pencipta) terhadap segala hasil yang telah diperoleh. Melalui upacara Naik Danggo suku Dayak Kalbar (Dayak Kanayatn) ini mereka merefleksikan kegiatan yang sudah lalu dihubungkan dengan kebesaran Nek Jubata.

Upacara ritual pesta padi ini kerap dilaksanakan rutin setiap tahun dan dilaksanakan secara bergiliran di Kabupaten dan Kota di Kalbar, sebagai contoh Upacara Naik Danggo ke VII pernah dilaksanakan di Kabupaten Pontianak Kalimantan Barat tepatnya di Desa Lingga, Kecamatan Sei. Ambawang pada tanggal 27 April 1992 dan 1993 upacara Naik Dango suku Dayak Kalbar diadakan di Kecamatan Menjalin, sedangkan pada tahun 2009 Naik Danggo diadakan di Singkawang.

Melalui kegiatan ini pula diharapkan dapat melestarikan berbagai seni kebudayaan Dayak yang memang memiliki beranekaragam pesona dalam bingkai kekayaan budaya Nusantara.